Senin, 09 Mei 2011

Mereka Mempunyai Kehidupan

Semuanya begitu berlalu dengan cepat. Hanya sebuah kepastianlah yang dapat menjamin semuanya. hanya takdirlah yang akan mengubah semuanya. Inilah jalan hidup kita masing-masing. Dengan sekenario yang sudah ditentukan. Kini, aku belum menjadi seorang manusia seutuhnya. Aku hanyalah seorang yang tak tau arah. Tapi, di lain itu, hatiku iba melihat kenyataan dan realita sekarang. Aku tidak menyalahkan keadaaan! Tapi lihatlah, ketika aku pulang ke kampung halamanku (Banjar) dengan kereta api, dan aku mendapat tiket berdiri. Tidak mendapat tempat duduk. Oke lah ga masalah. Tapi justru aku sangat bersyukur, karena aku dapat melihat orang-orang yang sedang berjuang untuk hidup. Mereka tidak memikirkan hedon! mereka memikirkan bagaimana nanti siang agar bisa makan. "Kebahagiaanku terletak ketika aku bisa memberi makan adik-adik saya" kata seorang pengamen jalanan yang sedang duduk di pintu kereta. Hal itu mengikis hatiku yang semakin peka terhadap kehidupan. Aku sempat menitikkan air mata karena sampai hari ini aku tidak merasa selalu bersyukur dengan nikmat yang telah diberikan. Aku selalu melihat ke atas. Tak pernah melihat ke bawah yang selalu ingin merasa lebih. Mencoba menutup kelopak mata dan berharap semuanya berlalu. Mencoba kembali membuka mata dan aku siap berdiri lagi. Aku tidak ingin menjadi orang lemah.
Hidup ini seperti air yang terus mengalir dan seperti udara yang mengalir ke segala arah. Dengan kebebasan yang tetap terkendali. Aku punya hak untuk hidup, mereka juga punya hak untuk hidup. Kita semua punya hak untuk hidup.

Aku berjanji, aku tidak akan pernah lari dari sekenario ini. Aku tidak akan memaksakan takdirku sesuai dengan keinginanku. Ak hanya ingin menjadi diri sendiri. Tidak ada kamuflase menjadi orang lain. Celotehan dari seseorang yan ingin menemukan arti dari sebuah ketentraman. Tidak hanya sebuah kebahagiaan. Aku ingin berjalan ke segala arah, bukan berarti juga aku tidak mempunyai prinsip kehidupan. Alasannya, karena aku ingin menemukan banyak sekali alasan kenapa aku harus bersyukur atas hidupku. Aku tidak ingin hanya melihat semua kelebihanku. Aku ingin menjadi kuat, justru karena kelemahanku. Aku tidak ingin menjadi orang yang besar kepala. Catatan terpenting dalam hidupku, ketika aku harus berjalan sendiri. Semuanya adalh cerita dalam hidupku. Dengan konflik yang kadang aku sendiri belum menemukan makna dari konflik tersebut. Dengan peran yang berbeda. Sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang anak, sebagai seorang masyarakat, dan sebagai hamba sang Khaliq. Mungkin aku harus bertanya kepada mereka yang sedang berjuang keras melawan penyakit kronisnya. Mungkin aku harus bertanya kepada mereka yang tidak merasakan bangku pendidikan. Tapi mereka semua pasti pernah merasakan kebahagiaan. Bukan Karena Blackberry, bukan karena mendapat IPK tiggi, bukan karena kado ulang tahun yang menarik, bukan karena mendapat uang yang banyak, tapi mereka bahagia karena alasan yang sangat sederhana. Mereka telah berjuang hidup. Aku merasakan arti kehadiran mereka. Mereka adalah kita. Mereka tetap tersenyum walau tidak punya uang banyak, tidak punya gadget canggih, tidak merasakan pendidikan. Ini aku, kalah oleh mereka. Mereka merasakan bagaimana caranya bersyukur. Ini aku, selalu frustasi jika banyak masalah yg menghampiri. Betapa relatifnya ukuran sebuah kebahagiaan, jika kita hanya melihat dari sudut pandang saja. Tidak melihat persepsi orang-orang yg termarjinalkan. Dan sekarang aku merasa bahagia, karena aku masih mempunyai kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Untuk menemukan arti dari hidup itu sendiri.

0 komentar:

Posting Komentar