Rabu, 11 Mei 2011

Fakta Tentang Jepang

11 maret 2011 terjadi gempa dahsyat di Jepang, kekuatannya mencapai 9 skala richer, lokasi gempa berada dikawasan pantai timur pulau Honshu. Angka ini adalah terbesar sepanjang sejarah gempa di Jepang. Akibat gempa itulah menimbulkan tsunami di derah Sendai, Miyagi, dan Iwate.
Bangsa jepang yang sudah pernah mengalami suatu kesedihan akibat bom atom 1945, bangkit dengan cepat. Mereka tidak berlarut-larut dengan kesedihan bencana tsunami, mereka bahu-membahu bangkit lagi dan saling memberi semangat. Kata “daijoubu-daijoubu” yang diucapkan bila ada seseorang yang sedih memberikan semangat baru untuk menyonsong hari esok. Tidak terlepas dari itu juga, bangsa Jepang yang sangat menyunjung budaya antrinya memperlihatkan kepada dunia bahwa orang-orang Jepang dapat bangkit kembali. Antrian saat mengambil bahan-bahan makanan yang disediakan pemerintah, saat mau membeli kebutuhan pokok di supermarket, dan ketika ada korban yang ingin diobati, begitu teraturnya antrian dan tidak saling mendahului membuat kagum seluruh masyarakt dunia.
Seluruh dunia merasa bersedih dan menjadi tergugah untuk membantu Jepang. Slogan “pray for Japan” tergema dari seluruh dunia. Penduduk dunia seakan menjadi satu untuk membantu, tidak terlihat perbedaan yang menghalangi. Indonesia sebagai negara tetangga terdekat tidak ketinggalan juga untuk membantu dan menyuarakan slogan “Pray fo Japan”. Lembaga pemerintah, LSM, anak-anak sekolah, dan mahasiswa yang khusus belajar bahasa dan budaya Jepang turut ikut menyemangati.
Berangkat dari itu, teater mahasiswa ENJUKU yang terdiri dari mahasiswa/i yang khusus belajar bahasa Jepang dari berbagai universitas Jakarta membuat suatu acara paduan suara. Acara yang diselenggrakan 1 mei 2011 di Jakarta Japanese School, dihadiri oleh 500 mahasiswa dari berbagai universitas swasta dan negeri. Dalam acara tersebut di tampilakan Drama Musikal “Tokyo Life Stroty” untuk memperkenalkan kebiasaan dan kebudayaan Jepang.
Warna putih dan hitam mewarnai aula JSS sebagai simbol duka atas tsunami di Jepang. Aula-aula sekolah Jepang digunakan sebagai tempat pengungsian bagi korban bencana yang kehilangan rumah. Jadi, fungsi aula sangat besar untuk membantu para korban. Dengan begitu, lagu “SAKURA YO” dinyanyikan di sini agar suasana hati mahasiswa yang menyanyikan sama dengan apa yang sedang dialami Jepang saat ini.

Lagu “SAKURA YO” sendiri mengisahkan tentang bunga sakura. Di Jepang sakura sangat dinanti oleh mayarakat Jepang karena keindahan dan singkatnya masa hidup sakura yaitu satu minggu dalam 365 hari. Dengan demikian, masyarkat Jepang biasanya mengadakan suatu acara untuk melihat bunga sakura atau bersantai dibahwa pohon sakura bersama teman atau keluarga. Singkatnya kehidupan bunga sakura membuat masyarakt Jepang untuk menyanyangi bunga ini secara bijaksana. Walaupn singkat bunga sakura pasti akan merkar lagi tahun depan dengan membawa suasana bahagia di hati masyarakat Jepang. Itulah yang dilukiskan dalam lagu ini agar tidak besedih karena kehilangan tempat tinggal dan orang yang disanyangi karena tsunami. Jangan menyerah karena suatu kesedihan terus bangkit seperti proses mekarnya bunga sakura.
Sakura yo sakihokore, Nihon no mannaka de sakihokore
Nihon yo sakihokore, sekai no mannaka de sakihokore
Watashi yo sakihokore, kono michi no mannaka de sakihokore
Sakura yo …
wahai sakura mekarlah, mekarlah dengan penuh bangga si seluruh pelosok Jepang
mari Jepang bangkitlah, bangkit dengan percaya diri di dunia ini
dan aku harus tegar, tegar dalam menjalani hidup, tegar dan penuh keyakinan
wahai sakura….

0 komentar:

Posting Komentar